Thursday, 16 January 2014

Rain Rain Rain

Seharian ini hujan tak kunjung berhenti membasahi kota kelahiranku, Parepare. Ada yang unik dari hujan hari ini, aku melihat bulir keceriaan yang turun bersama air hujan. Mungkin hanya menurut pandangan mataku saja, dan itu membuatku senang sepanjang hari.
Sebab matahari enggan menjenguk bumi, aku masih diam dalam bekunya hari walau hatiku masih tetap hangat. Kasih sayang di dalamnya harus tetap dihangatkan agar tidak basi, jika sudah demikian, aku akan menjadi fakir kasih. Sungguh mengenaskan.

Besok ada rangkaian cerita yang harus kuabadikan. Bersama anak-anak manusia yang kuanggap saudaraku sendiri. Ada banyak kebencian yang disemaikan oleh para pembenci, namun aku rasa akan lebih banyak lagi yang terbuang oleh derasnya hujan. Menyerap ke dalam tanah, mengalir ke sungai dan hanyut dibawa arus. 
Kau hujan, mengapa begitu kekal di hati? Hadirmu selalu menginspirasi jemariku untuk menari.

Wednesday, 15 January 2014

Assalamualaikum Mimpi yang Telah Usai

Assalamualaikum siapapun dan apapun di dunia ini.

Ada baiknya membangunkan orang dengan lemah lembut, dekati kupingnya atau setidaknya bertutur yang baik untuk membangunkannya. Dan jangan lupa beri ia salam, insya Alloh sehari dalam hidupnya ia akan dibalut dengan keselamatan.
Kepada mimpi yang telah usai, terima kasih telah memilihku untuk jadi pemeran utama dalam peristiwa indah di alam bawah sadarku.

Rintik Pertama di Januari



Aku melihat salah satu anak hujan datang padaku di awal pembukaan gerbang Januari. Saat itu ia masih kecil, belum tahu apa-apa dan banyak bertanya kepadaku tentang kehidupan ini. Aku menjawab sesuai yang kuketahui dan ia balas dengan anggukan yang menggemaskan. Beberapa hari setelah pertemuan kami, ia datang kembali. Ia tumbuh sangat cepat dan kali ini ia hanya sedikit bertanya padaku dan mencatat semua jawabanku di buku catatan kecilnya. Di pertengahan Januari yang basah, ia datang kembali setelah seminggu ia tak menemuiku. Kali ini ia membawa sebuah rintik lainnya yang cantik. Mereka bergandengan dengan mesranya sambil menyapaku dingin. Dan aku kecewa ia tak lagi bertanya padaku. Aku tahu ia sudah besar sekarang, ia pasti tahu semua hal tentang kehidupan. Dari balik kaca jendela aku menatap ia bersama teman rintiknya yang cantik sedang bersenda gurau. Sangat bahagia. Aku belum menutup pintu untuk rintik pertama di Februari.

PENALOVE


Duarrrr! Mungkin seperti itu lidahku menerjemahkan suara guntur yang tak henti-hentinya tebar pesona di atas langit. Mengundang perhatian banyak anak manusia padahal kami takut jadi amukan dirinya. Pagi itu, derasnya hujan seolah menggoda hati untuk terlelap kembali. Namun aktivitas di kampus selalu terbayang dan menari di benakku. Ketika hendak mengambil pakaian yang tergeletak pasrah di kasur, ada gulungan kertas di sana. Rasa penasaranku yang nakal mendorongku untuk mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Namun, sebelumnya aku membuka gulungan kertas itu dan mendapati tulisan “Tetaplah menulis, wahai gadis berkacamata. Tempatkan kenangan-kenangan di setiap sudut kehidupanmu! Dari PENALOVE.”

“PENALOVE?? Siapa dia?” spontan sebelah alisku naik setengah senti.

Apa peduliku, sampai sekarang makhluk bernama PENALOVE itu belum keketahui keberadaannya. Aku hanya menyimpan nasehat kecilnya yang maknanya luar biasa besar.

Friday, 29 November 2013

Bu Letin

Sejak sebulan yang lalu ia terus menerus mengejarku dengan tuntutan ini-itu. Siang dan malam hanya ia yang ada dipikiranku, memutar urat-urat syarafku hingga seolah isi kepalaku hanya dia dan dia saja.
Hingga sore ini, aku dan kawanku berhasil membuatnya bungkam.
Namun bulan depan, aku yakin ia akan kembali dan menuntut kembali. Huhh

Tuesday, 26 November 2013

Apakah Benar Karena Diriku?



Sebelumnya aku tidak menyadari bahwa pernah menyemangati seseorang hingga ia berhasil jadi orang besar sekarang. Menurutku besar, karena ia sudah mampu membuatku berdecak kagum karena perubahan derastis yang ia tunjukkan. Sangat jauh berbeda ketika pertama mengenalnya dahulu. Dan aku merasa itu sangat hebat!


Ia berkata bahwa karena akulah yang membuatnya demikian. Namun, aku merasa tidak pantas diberikan kalimat seperti itu. Aku hanya bersyukur seorang temanku yang dahulu sangat pemalu, kini bisa mengubur dalam-dalam sifat itu. Satu teladan bagiku, dan akan kuikuti jejaknya walau dalam porsi yang berbeda.

Tuesday, 19 November 2013

Aku ya Begini

Ahad hingga senin kembali. Tidak ada aktivitas yang terlewatkan. Aku senang beraktivitas, dengan banyak teman tentunya.
Memilih bergabung dalam salah satu organisasi di kampus membuatku banyak tahu. Dan itulah alasanku bergabung di dalamnya, agar aku bisa tahu apa yang belum kuketahui.

Seperti biasa, perpustakaan tempatku untuk meluapkan rasa rindu pada buku-buku. Hingga pukul 4 sore, apapun kulakukan di sini. Baca buku, browsing internet hingga memandang ke luar jendela di mana aku bisa melihat ombak yang tengah menari di laut. Disapu lembut oleh angin yang membuatku seketika mengantuk.

Setelah itu, kembali ke kediamanku yang nyaman. Dan kembali berkutat dengan segala tugas dari kampus. Ini membuatku semakin bersemangat. Aku membaca salah satu status temanku di Facebook tempo hari, "Diam sedetik, MATI!"
Itu mengapa aku tidak suka diam, kecuali untuk kegiatan khusus yang memerlukan diam.
Aku senang dengan diriku yang walau kadang tidak dihiraukan sama sekali. Tapi, mungkin aku masih bisa berguna bagi teman, keluarga dan orang-orang yang kusayangi :D