Sunday, 9 June 2013

Secuil Tulisan Motivasi



Saya bukanlah orang yang sebijak-bijaknya orang bijak, bukan pula secerdas para pemenang olimpiade matematika, saya hanyalah sebuah perwujudan dari ciptaan Alloh yang Maha Kuasa, yang sangat kebetulan diberi secercah pemikiran khas sebagai seorang mahasiswi (narsis amat, buk). Dibalik semua itu, saya juga hanyalah seorang mahasiswi biasa yang gemar menulis, berpikir, namun terkendala dalam hal berbicara. Yah, mungkin karena saya seorang introvert, maka dalam tulisanlah saya mampu berbicara panjang lebar.

Oke, ada kalanya saya berpikir, bagaimana bisa merubah diri jadi lebih baik? Semua orang menginginkan itu, bukan? Segala macam buku sudah pernah saya baca, management diri, psikologi remaja dan lain sebagainya. Semua di dalamnya terpaparkan berbagai motivas bagi seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih mempunyai tujuan hidup ke depan. 

Sebagai pembelajaran bersama, mungkin ada baiknya hal pertama yang kita lakukan adalah menentukan tujuan. Seperti yang saya kutip dari perkataan seorang penulis buku  Psycho-Cybernetics (1960) Maxwell Maltz, “Fungsi manusia adalah seperti sepeda. Kalau tidak bergerak maju dan melaju ke arah tujuan - sasaran – dia akan berhenti dan jatuh.”
Apakah sebenarnya tujuan kita hidup? Apa tujuan kita memilih menjadi seorang penulis? Apa tujuan kita menjadi seorang komikus? Apa tujuan kita menjadi seorang pegawai,  mahasiswa, bergabung dalam sebuah klub seni atau olahraga dan berbagai macam profesi dan hobi lainnya. Setelah menentukan tujuan, lakukanlah langkah kedua yakni mendalami apa yang menjadi profesi atau hobi kita. Misalnya, Anda seorang penulis. Menjadi seorang penulis harus banyak membaca. Tanpa membaca kita tidak akan mampu menulis dengan bahasa yang lugas. Menurut kawan saya yang juga seorang penulis, ia menghabiskan waktu 2 jam dalam sehari untuk sekedar membaca buku maupun artikel dalam internet. Dan tentu, hasil yang di dapatkan sangat memuaskan. Ia sudah mampu menghasilkan berbagai macam tulisan yang memotivasi dan juga aneka ragam cerpen dan novel.

Misalkan Anda seorang mahasiswa dengan jurusan Akuntansi. Anda tidak akan mampu mengetahui jurusan Anda sendiri tanpa banyak mempelajari mengenai akuntansi. Apalagi jurusan tersebut baru saja Anda kenal saat berkuliah. Lain halnya dengan yang sudah mendapatkan bekal saat di SMK dengan jurusan yang sama. Dengan berkuliah jurusan yang sama, akan lebih memperdalam ilmu akuntansi Anda. 

Intinya adalah lakukan saja, hari ini, jangan tunda sampai besok jika hari ini masih memungkinkan untuk dikerjakan. Jangan menjadi penganut Nantiisme (kata dosen saya, hehehe) yakni penganut yang seringkali menjadikan kata “Nanti” sebagai senjata utama dalam menunda pekerjaan.
Anda manusia bebas, istimewa, khususnya bagi diri Anda sendiri. Anda dilahirkan dengan berbagai macam kelebihan yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Namun, sebagian besar manusia tidak mengetahui dan buta akan kelebihannya sendiri. Karena apa? Yah, jawabnya adalah karena tidak menggali potensi yang ada dalam dirinya. 

Sekali lagi, Anda adalah manusia bebas. Bebas mengekspresikan karya, sesuatu yang ingin Anda lakukan. Seringkali Anda berpikir “apakah yang saya lakukan akan baik di mata orang lain?” atau “apakah pakaian ini akan tampak bagus di mata orang-orang?”. Ah, tidak usah mempedulikan apa yang mereka pikirkan. Selagi Anda nyaman dengan diri Anda sendiri, itu sudah pasti memancarkan aura positif di mata orang lain.
Ingin berubah? Lakukan sekarang :)

Saturday, 6 April 2013

di Antara Senar Gitar dan Biola







Dulu ibu akan menghukumku jika memarahi adik. Kubentak sedikit saja, adik akan menangis. Setelah itu, ibu akan memukuliku dengan kasarnya. Ia akan berhenti memukuliku jika adik memintanya ataukah ayah menyuruhnya berhenti. Segitu bencikah ibu padaku? Kadang aku berpikir ia lebih sayang pada anak bungsunya dibanding aku. Aku tidak mengingat lagi kapan terakhir kali ibu memujiku. Emiri dan aku terpaut usia 2 tahun, dan ia memang anak yang lembut, tidak sepertiku yang sedikit bersifat tomboy.
“darimana saja kau?” tanya ibu dengan nada sinis saat aku baru saja membuka sepatu.
“sekolah” jawabku seadanya sambil berjalan menuju kamar.
“dasar anak tidak sopan! Hei, kau sedang berbicara dengan ibumu, mengapa sifatmu tidak juga bisa seperti Emiri hah?!!” bentak ibu dengan keras di belakangku. Aku sedikit sakit hati dengan ucapan ibu, kenapa ia selalu ingin aku seperti Emiri?
“aku lelah, aku baru saja pulang kenapa langsung dimarahi? Kenapa aku tidak seperti teman-temanku yang selalu di sambut hangat oleh ibunya setiap pulang sekolah?” tuturku dengan mata berkaca-kaca lalu segera berlari menuju kamar.
BRAAKKKK!!! Kubanting keras pintu kamar dan kubuka lebar-lebar jendela kamaku. Angin mengusap lembut kristal bening yang tidak sengaja menganak sungai di pipiku. “aku bukan anak yang diharapkan ibu” batinku lirih, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Tak terasa aku sudah tertidur 3 jam lamanya. Jendela kamar masih terbuka lebar, memperlihatkan primadona malam yang tengah tersipu malu di antara kerumunan awan yang kehitam-hitaman.   sudah waktunya makan malam, aku bergegas membersihkan diri kemudian menuju ke ruang makan. Kulihat ayah, ibu dan Emiri sudah bersiap di sana. Ibu menatapku sinis dan ayah lalu menyuruhku duduk di sebelah Emiri yang menyunggingkan senyum padaku.
“baru bangun ya? Kakak pasti lelah” kata Emiri dengan suaranya yang lembut.
“yow” jawabku singkat sambil menyendok nasi dan lauk ke piringku. Dengan lahapnya aku menyuap makanan dengan bersemangat hingga suara teguran yang tidak kusukai itu terdengar lagi. “tidak bisakah kau makan layaknya anak perempuan?” ujar ibu. Aku tidak mempedulikan perkataan ibu. Aku tetap asyik mengunyah makananku. Emiri terlihat panik saat itu.

“lihat adikmu, ia makan lebih sopan dan selayaknya anak perempuan. Sedangkan kau apa? Seperti tidak punya etika!” tutur ibu lagi yang kali ini membuatku geram. “bisakah ibu diam? Ini waktunya makan, bukan bicara. Ayah saja tidak mempermasalahkan cara makanku, kenapa ibu selalu saja membandingkanku dengan Emiri? Semua anak punya karakter masing-masing, bu. Tidak akan pernah sama” aku mendengus kesal dan melanjutkan makanku dengan gerakan lebih cepat.
“sudah, Kita sedang makan, jangan membuat kegaduhan di depan makanan!” tegur ayah lembut. 

                Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar dan mengingat-ingat lagi semua perkataan ibu padaku, tentang perbedaanku dengan Emiri yang lebih lembut, tentang bakat Emiri yang pandai bermain biola. Ibu akan menyuruhku keluar dari rumah saat memainkan gitar kesayanganku. “kalau mau main gitar, sana di luar. Jangan membuat kegaduhan di dalam rumah” begitu katanya. Terngiang dan menjadi mimpi buruk dalam tidurku. Huhh..

Saat pulang sekolah kulihat Emiri tengah dikerumuni oleh beberapa orang. Aku hanya memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Sambil memainkan ponselku, sesekali aku melirik ke arah mereka. Nampak rambut Emiri ditarik oleh salah satu dari mereka dengan kasarnya. Sontak aku geram dan naik darah melihat adikku diperlakukan demikian. Aku segera berlari ke arah mereka dan memukul gadis yang menarik rambut Emiri. Akhirnya kami pun berkelahi. Tak berapa lama kemudian aku berhasil melumpuhkan gadis itu dan meminta maaf padaku. Kubalas dengan menarik rambutnya hingga ia meringis kesakitan dan memohon untuk dilepaskan. Lalu rombongan gadis-gadis itu berlari meninggalkan temannya yang sedang kutarik rambutnya. 

“berani kau menyakiti adikku, kau akan mati di tanganku!!!” ancamku dengan wajah memerah.
“tidak, ampun, aku janji tidak akan mengganggu Emiri  lagi. Tolong lepaskan rambutku, sakit sekali!” pintanya dengan mata yang sudah mulai berlinang air mata.
“sakit kan? Ini belum seberapa, aku bisa membuatmu lebih sakit dari ini. Kau mengerti?!
Ia menjawab sambil terisak,”iya, iya aku mengerti!!”
Kemudian kulepaskan rambut gadis itu sambil mendorongnya dengan kasar. Dalam hati aku sangat iba melihat adikku yang begitu lemah karena tidak melawan.

“kaaak..kakak, tunggu!” teriak Emiri yang berlari-lari kecil di belakangku saat aku berjalan menuju gerbang sekolah.
“bisa jalan lebih cepat? Kenapa kau begitu lemah, hah?!” tegurku dengan suara lantang yang membuat ia berdiri menunduk di hadapanku. “kenapa? Kau ingin mengadukanku pada ibu kalau aku membentakmu? Sana, silahkan!”
Emiri memelukku erat sambil menangis. Aku diam mematung dalam pelukannya. “ada apa dengan anak ini?” batinku penasaran.
“terima kasih. Kalau kakak tidak ada, aku pasti sudah dihajar oleh mereka” tuturnya lirih.
“kalau kau dihajar, aku akan dihajar juga oleh ibu. Asal kau tahu, kau itu anak kesayangannya. Kau tidak boleh terluka sedikitpun. jika kau terluka, pasti aku disalahkan karena ceroboh tidak menjagamu. Mengerti?! Sudah, lepaskan aku” kataku sambil melepaskan diri dari pelukannya.
“kaak..” ia menangis terisak di hadapanku. “aku begitu menyayangimu. Aku tidak berani membelamu di hadapan ibu karena takut dimarahi juga. Kau tahu, aku sangat kasihan jika kau setiap hari harus dimarahi ibu walaupun tanpa kesalahan”
“sudah biasa. Biarkan saja ibu marah, harusnya ia langsung saja membunuhku biar tidak ada yang membuatnya marah” jawabku asal.
“kakak, jangan bicara sembarangan. Ibu menyayangimu!” kata Emiri membela ibu.
“ya, terserah katamu” jawabku datar lalu meninggalkan ia sendirian.
Aku tak pernah menyalahkanmu, adikku..

                Beberapa tahun kemudian, aku lulus dari sekolah dan berniat melanjutkan studi ke kota lain. Aku ingin mengembangkan bakatku bermain gitar dan bernyanyi agar nantinya aku bisa terkenal seperti penyanyi idolaku, Yui.  Ayah sangat mendukungku dan mengizinkanku untuk menetap di kota tempat pamanku tinggal. Sedangkan ibu tidak peduli dan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada ayah. Lain halnya dengan Emiri yang tidak ingin aku pergi. Ia menangis berhari-hari, bahkan menangis di depan kamarku dan merengek ingin tidur bersama sebelum aku pergi. Tapi aku tidak memperbolehkan ia masuk sebelum nantinya aku pergi. Dasar anak manja.
“kenapa kau jahat?! Aku hanya ingin tidur bersamamu, malam ini saja. Besok kau sudah berangkat, kan? Bukaaaaaa!!’ teriaknya sambil memukul-mukul pintu kamarku.
“heh, anak manja. Berisik. Sana pergi, aku tidak ingin tidur denganmu. Aku tidak ingin tertular sifat lemahmu itu” balasku dengan teriakan pula.
“ini tidak menular, bodoh!” teriaknya dengan suara tercekak karena menahan tangis. 

Aku tidak sengaja tertawa mendengarnya, aku menahan suara tawaku agar tidak terdengar olehnya. Lalu beberapa menit kemudian tak ada suara. Aku pikir ia sudah lelah membujukku untuk membukakannya pintu dan kembali ke kamarnya. Dengan perlahan aku membuka pintu kamar dan terkejut melihat ia terkulai di lantai. Ah, rupanya ia tertidur. Aku merasa kasihan melihat adikku, aku lalu menggendongnya masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Andai saja ia tidak tertidur, tidak akan kubiarkan ia masuk! Kuusap rambutnya dengan lembut, “sebenarnya aku tidak ingin berbicara kasar padamu, tapi aku merasa aneh jika berkata lembut. Entahlah” batinku.

                Kubuka tirai abu-abu yang masih menutupi jendela. Dari celah-celah ventilasi terbias cahaya mentari yang membuat seisi kamarku terang benderang, warnanya terlihat hangat. Kulihat Emiri masih terlelap dalam tidurnya sambi memeluk guling. “bangun, dasar pemalas!” kuguncang tubuhnya hingga ia terbangun. Sambil menggosok matanya, ia tersenyum sumringah saat menyadari ia tidur di kamarku. “kakaaaaak! Aku tidur di sini dari semalam ya?” tanyanya polos nan menyebalkan.
“iya, dan kau sangat menyusahkan. Kau membuatku terjatuh dari tempat tidur karena gerakanmu yang keterlaluan itu” tuturku kesal.
“hahahaa...maaf, kak. Karena tidurku terasa nyaman sekali, makanya begitu..” jawabnya sambil tertawa lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“hah, alasan kau”
“kak, aku sudah mengizinkanmu pergi. Asal kau janji akan sukses nantinya dan kembali ke rumah” katanya.
“kau pikir aku tidak serius untuk sukses? Lihat saja nanti. Akan kubuat ibu terpesona dengan alunan suara gitarku yang katanya menyebalkan itu. Heh” aku mendengus kesal mengingat omelan ibu.
“hehee..ganbatte!” 

                Aku berdiri mengamati sekeliling rumah. Aku harap tidak ada kerinduan yang tersangkut dalam hatiku yang bisa membuatku terganggu di sana. Dan juga Emiri, semoga dia tidak merindukanku agar ia berhenti menangis. Ibu, semoga ia bisa menyayangiku seperti sayangnya kepada Emiri. Aku melambaikan tangan ke arah ibu dan Emiri sebelum masuk ke mobil bersama ayah.
                Hari pertama di kampus sangat menyenangkan. Dan di sana pula pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang teman kelasku dan menjalin hubungan dengannya. Aku masuk di jurusan musik dan mulai mengasah bakatku di sana. Aku ingin semua orang membuka matanya dan melihat aku sebagai seorang yang bisa diacungi jempol, bukan untuk menjadi sasaran kemarahan. Hingga beberapa tahun aku menuntut ilmu, aku pun berhasil menemukan impianku. Berada di atas panggung dengan gitar kesayanganku sambil menyanyikan lagu ciptaanku sendiri. Untuk pertama kalinya aku melihat ibu tersenyum bangga di kursi penonton, bersama ayah dan Emiri yang kini sudah sukses menjadi seorang violinist terkenal di kotaku.

Saturday, 26 January 2013

CILIK VS LICIK


4.jpgCILIK vs LICIK
“mumpung hari ini pulang cepet, main ke terminal lagi ah..” kata Fulan gembira.

            Langit tak begitu cerah hari ini, meskipun demikian tak mengurungkan niat Fulan untuk berjalan-jalan kemana pun ia inginkan. Walaupun ia masih berusia 11 tahun, ia sudah berani bepergian tanpa orang tua. Kebetulan hari ini sekolah memulangkan para muridnya lebih awal karena ada rapat guru.
 Berbeda dengan teman sebayanya yang senang bermain di time zone atau berjalan-jalan di mall, ia malah memilih terminal sebagai tempat hiburannya. Sambil mengayuh sepedanya, ia bersiul kecil di tengah hiruk pikuk kendaraan kota. Setelah sampai di tujuan, ia duduk di sebuah kursi panjang tempat biasanya orang menunggu datangnya bus. 

“esnya satu, bang!” seru Fulan pada abang penjual es yang sedang nongkrong tak jauh dari tempatnya.
Sebuah kantong plastik berisikan es berwarna merah muda sudah di tangan Fulan. “makasih..berapa nih, bang?” tanya Fulan. “seribu, neng.” Jawab abang penjual es. 

Setelah membayar es tadi, disedotnya es tersebut dengan rakusnya. Ia tampak begitu haus usai mengayuh sepeda. Fulan, gadis kecil yang sedikit tomboy itu memperhatikan setiap aktivitas di terminal. Ia mengamati orang-orang yang turun dari bus sambil membawa banyak barang. Kemudian pandangannya beralih kea rah anak-anak yang pedagang asongan yang tengah sibuk menjajakan dagangannya kepada para penumpang yang turun dari bus. Hati Fulan miris melihat mereka yang kebanyakan sebaya dengannya tetapi sudah bekerja seperti itu. Fulan berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan sekolahnya.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba duduk di sebelahnya sambil menjilat es krim. Fulan mengamatinya dari atas ke bawah, anak itu pasti anak orang kaya. Terlihat dari penampilannya yang serba bagus. 

“ngapain lihat-lihat? Mau?” kata anak itu sambil menyodorkan es krimnya kepada Fulan.
Fulan menggeleng.
“trus, kenapa lihat aku?” tanya anak itu polos.
“engga apa-apa. Ngapain kamu di sini?” Fulan balik bertanya.
“nungguin papaku. Kamu sendiri ngapain disini,bolos yah?” selidik anak itu.
“engga! Aku emang sering main disini tau” kata Fulan, sesekali melihat kea rah bus. “namamu siapa? kamu sekolah di mana?
“Gilang. Aku sekolah di SD 3” jawabnya sambil menjilat es krim.
“wow, itu kan sekolah yang isinya anak orang kaya semua. Kamu beruntung yah bisa sekolah di sana. Pasti kamu orang kaya deh. sepatumu aja bagus banget” ujar Fulan mengamati sepatu Gilang yang nampak bagus sekali.
“iya, papaku orang kaya banget. Aku juga mau jadi kaya seperti papa”
Sejenak fulan kembali menatap wajah Gilang yang terlihat masih sebaya dengannya. “sombong banget nih orang” batinnya.
“emang papamu kerja di mana sih?” selidik Fulan penasaran.
“di sini” jawab Gilang.
“di terminal?”
“iya, papaku jadi supir bus. Aku nunggui papa untuk makan siang bareng” jawab Gilang masih dengan kepolosannya.

Mendengar pernyataan dari Gilang, Fulan menjadi bingung dibuatnya. “aku kira papamu kerja di perusahaan gitu atau jadi pengusaha yang banyak uangnya. Ternyata jadi supir bus bisa bikin kita kaya juga ya?” tanya Fulan makin penasaran.

Gilang melirik Fulan. “bisa dong. Kata papaku, apapun pekerjaan kita mesti di syukuri. Yang penting halal tau. Kata papa lagi, orang yang paling kaya di dunia ini adalah orang yang selalu merasa bersyukur dengan rezeki yang dikasi sama Allah” tutur Gilang. ”papaku engga pernah merasa kekurangan. Papa pengen aku jadi orang besar kelak makanya papa selalu kasi yang terbaik buat aku termasuk sekolah di sekolah unggulan” tambahnya.

Fulan mencerna ucapan Gilang barusan, ia ingin melihat seperti apa sosok papa Gilang. Saat itu juga Gilang berteriak memanggil papanya. Kemudian seorang lelaki berpostur tubuh tinggi dan kelihatan masih muda berjalan ke arah mereka. Ia nampak begitu rapi meskipun peluh terlihat menghiasi wajahnya.

“papaaa…” Gilang bangkit dari kursi lalu memeluknya papanya.
“sudah lama nunggu, nak?” tanya lelaki itu lembut.
“engga kok, pa. yuk kita makan pa, Gilang udah laper nih” rengek Gilang manja.
“iya..sabar, nak” ucap lelaki itu menenangkan Gilang. “lho, ada temennya ya? Halo, namanya siapa, nak?” sapa lelaki itu pada Fulan.
“Fulan, om..” jawab Fulan sambil menyalami tangan papa Gilang.
“udah pulang sekolah ya? Yuk sekalian makan siang bareng om dan Gilang” ajaknya.
“ehm..engga usah, om. Makasih. Fulan makan di rumah aja nanti”
“hoo ya udah. Jangan keluyuran yah, nanti orang tuamu nyari lho” kata lelaki itu ramah. “ya udah om sama Gilang pergi dulu yah”
“iya, om..” jawab Fulan seraya tersenyum.

Gilang dan papanya pun beranjak dari tempat itu. Gilang melambaikan tangan pada Fulan yang masih duduk sambil menyeka keringat di dahinya. Fulan merenungkan kembali perkataan Gilang yang bercerita tentang papanya yang katanya orang yang sangat kaya. Ia cukup dibuat kagum dengan sosok papa Gilang. 

            Fulan menengadah ke langit, rupanya matahari sudah mulai bangkit dari kesuraman pagi tadi. Sinarnya mulai terasa panas membakar kulit hingga beberapa kali Fulan menyeka keringat di dahi dan lehernya. Dari depan nampak suasana sudah sangat ramai, pedagang asongan pun juga bertambah jumlahnya. Dari keramaian itu, Fulan melihat seorang pemuda berkumis dan rambutnya acak-acakan merampas tas milik seorang wanita yang tengah berdiri di depannya. Wanita tersebut berteriak histeris, “toloooong…copeeet, toloooong!!” teriaknya sambil berusaha mengejar pemuda itu. Suasana di depan Fulan makin ramai oleh orang-orang yang mengerumuni wanita itu. Orang-orang tersebut berlarian mengejar pencopet yang telah lari menerobos apa saja di depannya. Sambil membuang bungkusan esnya, Fulan memperhatikan kemana arah pencopet itu lari. Dengan gesit ia langsung naik ke sepeda dan dikayuhnya  dengan cepat ke arah larinya pencopet itu. 

Nafas Fulan mulai terengah-engah, tapi ia masih bersemangat mengejar pencopet itu. “ish, cepet banget sih larinya tuh copet” gerutu Fulan. Ia lalu mengambil jalan pintas agar cepat menyusul lari pencopet itu. Dari usahanya tersebut, ia berhasil muncul di hadapan pencopet itu di dalam sebuah gang sempit yang sepi. Fulan menatap pencopet itu dengan mimik wajah marah.

“heh, bocah. Minggir lu!!” tegur pencopet itu dengan mimik wajah panik.
“engga mau, kembaliin dong tas ibu tadi. Dosa lho, bang.” Fulan dengan polosnya menceramahi pencopet tadi.
“eh tau apa lu bocah. Sono, kalau mau ceramah di mesjid. Minggir!!” pencopet tersebut mendorong sepeda Fulan hingga terjatuh.
Fulan ikut terjatuh dan seragamnya kotor oleh tanah. Ia geram telah diperlakukan seperti itu. Diambilnya batu lalu dilemparkan ke punggung pencopet tadi.  Spontan pencopet itu menoleh sambil mengumpat Fulan.
“sialan nih bocah. Heh, cari mati lu?!” umpatnya kasar.
“kenapa abang dorong sepedaku. Ini tuh mahal tau. Emang abang bisa ganti apa?” sahut Fulan sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“halah banyak bacot lu bocah. Heh, gue kasi tau ya, elu bocah ingusan engga usah cari masalah ama gue. Lu masih kecil, engga tau apa-apa. Sana balik ama emak lu!” ujar pencopet itu kesal.
“ih abang engga pernah sekolah ya? Kok ngomongnya kasar. Abang engga pernah diajarin sama orang tuanya ya kalau ngomong sama  orang tuh harus sopan.” Ujar Fulan polos.
“kurang ajar dah ni bocah. Gini-gini gue juga pernah sekolah. Elu mendingan belajar yang bener, jangan sok pinter deh”
“waktu abang sekolah ada mata pelajaran nyopet ya. Kok aku engga ada, bang?
Pencopet menggaruk-garuk kepalanya. “engga ada sih. Ah ngapain sih lu banyak tanya. Ini tuh buat makan. Gue bisa mati kalo engga makan, lu tau engga itu”
“trus kok aku engga mati waktu puasa? Kan puasa itu engga makan juga”
“astagaaaa…lama-lama gue bejek juga ni curut. Auk ah, bodo amat sama elu” bentak pencopet itu lalu beranjak dari hadapan Fulan dengan cepat.

Saat membalikkan tubuhnya, pencopet tersebut telah dikepung oleh warga yang tengah mengejarnya tadi. Rupanya ide Fulan berhasil mencegah pencopet itu lari lebih jauh lagi. fulan sengaja mengajak pencopet itu mengobrol agar pikirannya teralihkan dari niatnya untuk kabur. Melihat warga telah mengepungnya, pencopet itu tidak berkutik. Ia memohon-mohon kepada warga agar tidak membawanya ke kantor polisi.

“ampun, pak..ampuuun. tolong jangan bawa saja ke kantor polisi” kata pencopet itu mengiba.
“halah, yuk kita hajar aja nih copet!” seru salah satu warga yang amarahnya mulai memuncak.
“jangan! Bawa saja dia ke kantor polisi. Kita engga boleh main main hakim sendiri” tutur salah seorang bapak dengan bijak.
“eh, bang. Siniin dong tasnya” sahut Fulan sambil merebut tas dari tangan pencopet.
“gara-gara elu ngajak gue ngobrol, sekarang gini kan jadinya. Awas lu bocah” bisik pencopet itu geram.
Fulan membalasnya dengan tertawa lebar lalu menyerahkan tas tadi kepada warga untuk dikembalikan kepada pemiliknya.
“wah, hebat kamu dik. Makasih ya atas bantuannya” sanjung salah seorang warga.
“iya, nih anak siapa sih? Orang tuamu pasti bangga punya anak seperti kamu, dik” sanjung yang lainnya.
“eng..hmm” Fulan hanya memainkan roknya sambil menatap para warga yang sedang menyiraminya dengan sanjungan.
Lalu salah satu warga tiba-tiba memberi Fulan sejumlah uang. “nih buat jajan ya, dek”
“engga usah, pak. Aku engga merasa berjasa kok, cuma kebetulan aja lewat sini jadi..gini” jawab Fulan malu.
“ah, adik ini bohong. Terima aja, dik. Tadi bapak lihat usaha kamu mencegah pencopet ini untuk kabur. Nih, ayo terima. Adik berhak menerimanya” ujar bapak itu sambil menyerahkan uang kepada Fulan.

Fulan tak dapat menolak  lagi. Diraihnya uang itu dengan segan sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia pamit pulang pada warga dan menyunggingkan senyum terakhir untuk sang pencopet. “sabar yah, bang. Dipenjara tuh enak lho, makan gratis..hehehe.Fulan pulang dulu, dadaaah” 

Pencopet itu memelototi Fulan yang tengah naik di atas sepedanya. 

Saat pulang ke rumah, ayah dan ibu Fulan sudah bersiap di depan pintu. “darimana saja kamu? Ini lagi, kenapa seragam kamu kotor gini?” selidik ayahnya.

“kamu engga liat sekarang jam berapa?” tambah ibunya.
“anu yah, tadi habis ngejar copet trus jatuh” jawab Fulan apa adanya.
Ayah dan ibunya saling berpandangan. “kalo bikin alasan tuh yang logis, sayang.. anak sekecil kamu mana bisa ngelakuin itu. Yauda sana, mandi habis itu makan dan belajar. Cepetan sana!” perintah ibunya.
“dasar anak ini, selalu saja bikin ulah.” Tambah ayahnya.
Fulan tak dapat membantah lagi. Ia merasa hanya sia-sia belaka jika ia terus bicara karena ucapannya hampir tak pernah mereka percayai. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba meleleh di atas pipinya sambil berjalan menuju kamar.